Selasa, 03 April 2012

PURANA TATWA PURA ULUN DANU BATUR


Kutipan
SINOPSIS
PURANA TATWA PURA ULUN DANU BATUR

Naskah Purana Tatwa Majapahit, Batur, Gunung Agung, Bangli, Taman Bali, Nyalian, Gelgel selanjutnya disebut Purana Tatwa Pura Ulun Danu Batur. Merupakan sebuah prasasti yang ditulis di atas daun lontar. Isinya merupakan sejarah terjadinya beberapa tempat suci di Bali. Untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh, maka dibuatkan sinopsis sebagai berikut :

lontar perasi
a.     Tersebutlah I Ratu Sakti Majapahit (yang bersemayam di Pucak Gunung Semeru) mengambil istri bernama I Dewa Ayu Mas Arakapi, melahirkan seorang putri bernama I Ratu Ayu Mas Kawot. Selanjutnya, beliau kembali mengambil seorang istri bernama Ida Dwayu Mas Melepud. Dari perkawinan ini lahir putra pada bulan Purnama Sasih Kenem sekitar bulan Desember diberi nama I Gede Batara Guru. Selanjutnya, beliau kembali berputra yang lahir pada hari Sabtu Kliwon Wayang, namun begitu lahir bayinya lenyap. Karenanya, beliau berkaul jika bayinya kelihatan akan menhaturkan sesaji enam ekor kerbau, serta mengadakan tarian selama 42 hari. Akhirnya bayi itu kelihatan dan diberi nama I Gede Batara Indra.

Selanjutnya, I Gede Batara Indra mengambil istri bernama I Dewa Ayu Mas Mageng, melahirkan tiga orang putra. Batara Indra pergi ke Bali dan bersemayam di Tirta Empul Tampaksiring. Selang beberapa tahun setelah ketiga putranya dewasa diantar oleh bibinya bernama I Dewa Ayu Mas Membah menuju Tirta Empul menghadap ayahandanya. Batara Indra menanyakan ketiga putra tersebut, dan dijawab oleh adiknya I Dewa Ayu Membah bahwa itu adalah putranya sendiri. Batara Indra berkata : ”Anakku Gede Putu, sekarang ayah memberi nama I Gede Putu Gunung Agung, dan ayah memberi air dan agar diberi nama Tirta Toya Mas Kusuma. Selanjutnya, beliau berkata pada putranya kedua, agar berangkat menuju sebuah empangan besar diantar oleh I Mucangan. Tempatnya adalah di sebelah Barat Laut Danau Batur disebut Tirta Mas Mampeh. Putranya ini sekalian dengan bibinya serta I Ratu Ayu Mas Kawot. Selanjutnya, putra ketiga meminta balai panjang dan besar serta menetap di Manukaya.

b.      Tersebutlah kembali Ida Ratu Sakti Majapahit mengambil seorang istri berasal dari Betawi bernama Ida Dewa Ayu Mas Melejer, berputra seorang laki-laki diturunkan di Trunyan dan diberi nama I Gede Manik Pancer. Setelah beberapa lama di Trunyan beliau mengutus I Pasek Tarunyan ke Majapahit meminta gamelan. Karena permintaannya belakangan, maka Pasek Trunyan dititipi sepasang gamelan agar diberikan Batara Indra. Gamelan itu bernama Ki Madu Sara, setelah di Trunyan ditahan oleh I Gede Manik Pancar bahkan ditenggelamkan di Danau Batur. Karenanya, I Ratu Sakti Majapahit marah dan mengutuknya agar ia terus membesar dan tidak bisa lepas dari tanah.

c.       Selanjutnya, Batara Indra mempunyai seorang adik diberi gelar I Dalem Ketut diturunkan menjadi Raja Gelgel. Beliau lahir pada Purnama Kawulu (bulan Pebruari). Beliau berangkat ke Gelgel diiringkan oleh seorang Dukuh dan setelah beberapa lama Si Dukuh ditempatkan di Tegal Wangi, ia bermimpi mendapat bunga. Paginya ia pergi ke kolam Tirta Mas Kusuma, dan di atas daun teratai terdapat seorang bayi. Bayi itu segera diambil serta dibawa ke pondoknya.

Alkisah Ida Dalem Ketut di Gelgel ingat bahwa akan ada putranya datang maka diutuslah pembantunya menuju ke rumahnya Dukuh untuk mengambil bayi itu. Pada mulanya ditahan namun karena takut, bayi itu diserahkan. Setelah dewasa, diberi nama I Gede Putu dan diberi seorang istri bernama Yayu Mas Meketel. I Gede Putu ini ditempatkan di Nyalian, dan di sana mengambil istri putra Perbekel Nyalian sehingga putranya bergelar Satria Akenjang. Kembali I Gede Putu mengambil dua orang istri dan putranya diberi gelar Sang Wayan Rurung dan Sang Wayan Tlabah. I Dewa Ayu Mas Meketel berputra pula diberi nama I Gede Den Bencingah, di tempatkan di Bangli, serta disuruh mengambil istri putra Perbekel Bangli. Kembali I Dewa Ayu Mas Meketel berputra diberi nama I Gede Ketut Tangkeban, karena ayahnya dahulu sewaktu diambil oleh Ki Dukuh ditaruh di bawah tempat ayam (guwungan). Kembali I Dewa Ayu Mas Maketel berputra ditempatkan di Taman Bali, dan memperistri putra perbekel dari Pemecutan Badung.

Demikian secara singkat isi naskah tersebut sehingga berjudul Purana Tatwa Majapahit, Batur, Gunung Agung, Bangli, Taman Bali, Nyalian, Gelgel. Isinya merupakan sejarah terjadinya beberapa tempat suci di Bali seperti : Tirta Empul Tampaksiring, Tirta Mas Kusuma di Gunung Agung, Tirta Mas Mampeh di Batur, serta tempat suci lainnya seperti Trunyan, Manukaya. Juga menjelaskan ada beberapa keturunan di Bali yakni di Gelgel, Nyalian, Bangli, Taman Bali, serta tempat lai

Kita sebagai Rakyat Indonesia, saat ini tidak menduga asal-usul terjadinya Negeri kita ini. bahwa cikal bakal terjadinya bangsa kita, berawal dari Payogan Pandita Sehsubakir (Ida Hyang Aji Pasupati) yang berasal dari India. serta penemuannya kembali berawal dari pengalaman seorang Pandita yang bernama Ida Pandita Empu Nabe Dwi Prama Dharma yang berasal dari Geria Giri Merta Banjar Kutabayem, dusun Tengah Desa Manggis Kabupaten Amblapura Bali.
Ida Pandita Empu Nabe Dwi Prama Dharma diawali dari sakit yang tak tertahankan, sehingga Beliau melakukan Semedi dan dalam semedi Beliau di datangi oleh Sang Hyang Aji Pasupati yang memerintahkan Beliau untuk memuja dengan menggunakan Siwa Krana. Saat itu Sang Hyang Aji Pasupati juga menunjukan gambar-gambar berupa supit urang, gambar Gunung, gambar daerah Pertanian, Gambar pundopo dan gambar-gambar tempat Pemujaan.
Untuk meyakinkan wahyu yang Beliau terima melalui Semedi, Beliau melakukan Semedi berulang kali. Dalam semedi itu secara berturut-turut beliau didatangi oleh seorang wanita cantik, yang mengaku bernama Hyang Sekar Taji, yang memerintahkan Ida Pandita untuk menghadap Bre Kahuripan (Kedung Maling) di Majapahit (Trowulan). Kemudian menyusul  kedatangan Hyang Agnijaya yang berstana di Gunung Lempuyang Luhur yang menugasakan Ida Pandita agar matur piuning (menyampaikan) kehadapan Beliau sekaligus menyembah Tri Sadaka di Gunung Lempuyang Luhur.


Manfaat Genitri


Kutipan
Manfaat Genitri
Mata Siwa Penyapu Polutan
Oleh admin Kamis, Nopember 01, 2007 20:53:10

Kedua mata Prof I Nyoman Kabinawa terpejam. Ia duduk bersila mengenakan pakaian putih. Bibirnya merapalkan doa. '...Dhimahi dhiyo nah pracodayat.' Pada saat bersamaan, jari manis tangan kanannya memutar biji mala seukuran buah kersen hingga 108 kali. Telunjuk dan kelingking terlarang menyentuh mala yang tersusun dari biji buah ganitri.

Kedua mata Prof I Nyoman Kabinawa terpejam. Ia duduk bersila mengenakan pakaian putih. Bibirnya merapalkan doa. '...Dhimahi dhiyo nah pracodayat.' Pada saat bersamaan, jari manis tangan kanannya memutar biji mala seukuran buah kersen hingga 108 kali. Telunjuk dan kelingking terlarang menyentuh mala yang tersusun dari biji buah ganitri.

Itulah ritual Prof I Nyoman Kabinawa dan penganut Hindu lain saat bermeditasi. Dalam ritual itu, ganitri elemen penting lantaran mempunyai nilai mitos tinggi. 'Sebelum digunakan untuk meditasi, ganitri mesti diberi mantra agar memiliki kekuatan,' kata Kabinawa, periset Pusat Penelitian Bioteknologi, LIPI. Dengan kekuatan itu, doa yang dipanjatkan pun sampai ke Sang Hyang Widi.

Rudraksa-sebutan ganitri di India-tanaman setinggi 25-30 m dengan batang tegak dan bulat berwarna cokelat. Sepanjang tepi daunnya bergerigi dan meruncing di bagian ujung. Dalam bahasa India, rudraksa berasal dari kata rudra berarti Dewa Siwa dan aksa berarti mata. Sehingga arti keseluruhan: mata Siwa. Sesuai namanya, orang Hindu meyakini rudraksa sebagai air mata Dewa yang menitik ke bumi. Tetesan air mata itu tumbuh menjadi pohon rudraksa.
Mata Siwa

Di Indonesia, biji titisan Dewa Siwa itu populer dengan nama ganitri, genitri, atau jenitri. 'Indonesia paling banyak produksinya di dunia,' kata Yana Sumarna, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor. Pohon Elaeocarpus ganitrus banyak ditanam di Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Timor. Indonesia memasok 70% kebutuhan ganitri yang diekspor dalam bentuk butiran biji. Sebanyak 20% pasokan lainnya dari Nepal. Sedangkan India, negara paling banyak menggunakan rudaksa hanya memproduksi 5%.

'Biji-biji ganitri keras dan awet, bisa digunakan untuk 8 generasi,' kata Komari. Kecuali ukuran, setiap biji memiliki jumlah lekukan atau mukhis berbeda. Jumlahnya bervariasi mulai dari 1 hingga 21 mukhis yang memiliki perbedaan arti. Semakin banyak mukhis harganya kian tinggi.

Manfaat ganitri bukan sekadar alat 'hitung' dalam berdoa laiknya tasbih bagi kaum Muslim atau rosario bagi umat Nasrani. Biji ganitri juga berfungsi menghilangkan stres. Itu dibuktikan oleh Dr Suhas Roy dari Benaras Hindu University. Penelitiannya mengungkap utrasum bead-sebutan ganitri di Amerika-biji ganitri mengirimkan sinyal secara beraturan ke jantung ketika digunakan sebagai kalung. Ia mengatur aktivitas otak yang mengarah pada kesehatan tubuh.

Efek itu diperoleh lantaran biji sima-sebutan ganitri di Sulawesi Selatan-memiliki sifat kimia dan fisik berupa induksi listrik, kapasitansi listrik, pergerakan listrik, dan elektromagnetik. Karena itu biji ganitri mempengaruhi sistem otak pusat saat menyebarkan rangsangan bioelektrokimia. Hasilnya, otak merasa tenang dan menghasilkan pikiran positif.

Sebetulnya, komposisi kimia ganitri tak beda jauh dengan buah lainnya. Antara lain 50,024% karbon, 17,798% hidrogen, 0,9461% nitrogen, dan 30,4531% oksigen. Beberapa elemen mikro dalam biji tanaman anggota famili Elaeocarpaceae itu adalah aluminum, kalsium, klorin, tembaga, kobalt, nikel, besi, magnesium, mangan, dan fosfor.
Panasea

Pembeda ganitri dan buah lain terungkap melalui riset Institut Teknologi India. Ganitri memiliki nilai spesifik gravitasi sebesar 1,2 dengan pH 4,48. Saat digunakan untuk berdoa, misalnya, ganitri memiliki daya elektromagnetik sebesar 10.000 gauss pada keseimbangan Faraday, hasil konduksi elektron alkalin. Gara-gara itulah ganitri dipercaya mengontrol tekanan darah, stres, serta berbagai penyakit mental.

Ganitri juga dipercaya menyembuhkan epilepsi, asma, hipertensi, radang sendi, dan penyakit hati. Ia berguna saat dikalungkan di leher ataupun diminum air rebusan. Caranya? Biji ganitri direndam semalam lalu diminum saat perut kosong. Itu terbukti efektif meredam hipertensi dan menghasilkan perasaan tenang dan damai. Dalam 7 hari, tekanan darah turun bila dibarengi dengan mengalungkan ganitri di leher. Khasiat lain, ganitri berfungsi sebagai pelindung tubuh dari bakteri, kanker, dan pembengkakan.

Begitulah riset sahih Singh RK dari Departemen Farmakologi, Banaras Hindu University, India. Ia menggunakan berbagai larutan seperti petroleum eter, benzena, kloroform, asetone, dan etanol untuk melarutkan 200 mg/kg buah ganitri kering. Larutan ganitri hasil perendaman selama 30-45 menit itu menunjukkan sifat antipembengkakan radang akut dan nonakut pada tikus yang dilukai. Di luar itu, ganitri menghilangkan sakit kepala alias antidepresan dan antiborok pada tikus terinjeksi.

Uji praklinis yang melibatkan babi sebagai satwa percobaan, membuktikan ganitri mencegah kerusakan paru-paru. Sebelumnya, babi diinduksi pemicu luka, histamin, dan asetilkoline aerosol. Meski diberi zat perusak paru-paru, organ pernapasan babi-babi itu tetap baik.

Duduk perkaranya karena glikosida, steroid, alkaloid, dan flavonoid yang terkandung dalam ganitri melindungi paru-paru. Keempat zat organik itu juga bersifat antibakteri. Terhitung 28 jenis bakteri gram positif dan negatif enyah oleh ekstrak ganitri antara lain Salmonella typhimurium, Morganella morganii, Plesiomonas shigelloides, Shigella flexnerii, dan Shigela sonneii.

Menurut A B. Ray dari Department of Medicinal Chemistry, Banaras Hindu University, India, alkaloid yang terkandung dalam ganitri: pseudoepi-isoelaeocarpilin, rudrakine, elaeocarpine, isoelaeocarpine, dan elaeocarpiline. Senyawa itu berkhasiat meluruhkan lemak badan. Caranya, 25 gram buah Elaeocarpus ganitrus kering, dicuci dan direbus dalam 1 gelas air sampai air rebusan tersisa separuh. Setelah air rebusan dingin, saring, lalu minum sekaligus.
Pengisap polutan

Cuma itu faedah genitri? Ada lagi peran lain yang dimainkan oleh genitri sebagaimana hasil riset Dwiarum Setyoningtyas dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung: ganitri sebagai penyerap polutan. Ia membandingkan konsentrasi gas sulfur oksida, nitrogen oksida, dan karbon monoksida dalam kotak kaca berisi tumbuhan ganatri dengan kotak tanpa tumbuhan.

Ke dalam kedua kotak kaca diembuskan emisi gas buang dari hasil pembakaran tiga jenis bahan bakar yang memiliki kandungan biodiesel yang berbeda. Yaitu 10% biodiesel (B-10), 5% biodiesel (B-5), dan 0% biodiesel (B-0) sebagai pembanding. Hasilnya, tingkat pencemaran dari ketiga jenis emisi bahan bakar dalam kotak kaca berisi ganitri tercatat lebih rendah (sulfur oksida 0,81 ? 0,38 ppm, nitrogen oksida 0,49 ? 0,01 ppm, dan karbon monoksida 1,36 ? 0,71 ppm).

Bandingkan dengan kotak kaca tanpa ganitri yang pencemarannya lebih tinggi. Untuk ke-3 zat kimia itu masing-masing 5,15 ? 1,77 ppm, 0,75 ? 0,15 ppm, dan 2,34 ? 1,36 ppm. Kesimpulannya genitri berperan menurunkan tingkat pencemaran. Itu sebabnya, 'Ganitri digunakan sebagai pohon pelindung di sepanjang jalan Bandung-Lembang,' kata Eka Budianta, budayawan. (Vina Fitriani/Peliput: Andretha Helmina).
Trubus Majalah Pertanian Indonesia : http://www.trubus-online.co.id Online version:

Pemakaian Genitri

QUESTION:
Mengenai cara pemakaian Genitri, apakah diputar oleh jari telunjuk + ibu jari ke arah depan atau belakang? Lalu kalau sudah sampai pada BATAS nya, apakah meloncat atau balik arah?
ANSWER:
Berdasarkan pelajaran Surya Sewana atau Argha Patra: Pegang genitri di tangan kanan, gunakan jari tengah, jari manis dan kelingking untuk menyangganya, dorong satu demi satu dengan jempol.
Telunjuk diliburkan/ bila perlu jangan menyentuh genitri karena dia mewakili ahamkara. Telunjuk lurus ke atas, maknanya mohon restu/ bimbing

Doa Mohon Kesembuhan

Doa untuk mohon kesembuhan dll. adalah Gayatri Mantram atau lebih tegas lagi VAIDIKA GAYATRI:
OM BHUR BHUVAH SVAH
OM TAT SAVITUR VARENYAM
BHARGO DEVASYA DHIMAHI
DHIYO YO NAH PRACODAYAT

Ucapkanlah mantram ini berulang-ulang sebanyak-banyaknya kalau bisa sampai 108 kali, dan paling baik jika dibantu sebuah ganitri atau japa mala (tasbih) di mana setiap mengucapkan satu bait maka satu biji ganitri ditarik ke dalam ke arah kita.
Cara menggunakan ganitri adalah: Terdiri dari 108 biji atau 54 atau 27, bisa dibeli di toko-kios souvenir di Tampaksiring, Goa Gajah, dll. atau buat sendiri dari bahan: buah ganitri, atau kayu cendana, atau batu permata (mutiara, akik, dll) menurut kemampuan anda.
Pegang dengan tangan kanan, di mana telunjuk lurus ke atas, dan ibu jari serta jari tengah memegang lingkaran ganitri, ibu jari menarik biji ganitri satu persatu setiap selesai mengucapkan satu bait Gayatri Mantram. Jari manis dan kelingking ditekuk. Sikap duduk atau berdiri atau berbaring yang relax saja. Pikiran konsentrasi pada kebesaran Hyang Widhi.
Mantram Gayatri menurut Narayana Upanisad ada 20 macam. Jika ingin memperdalam agar membaca Buku GAYATRI SADHANA, Maha mantra menurut Weda, I Wayan Maswinara, Penerbit Paramita Surabaya 1997. Di samping itu untuk menggetarkan vibrasi kesucian di rumah boleh memutar kaset Gayatri Mantram yang kini sudah banyak dijual di toko-toko.

Memuja Ganesa, Durga, Brahma, dan Wisnu

Ada beberapa mantram Gayatri yang singkat dan dapat digunakan memuja, ucapkan berulang-ulang (kalau bisa 108 kali) sambil membawa ganitri. Dikutip dari Narayana Upanisad:
No
Untuk
Doa
Mantram
Arti
1
Ganesa
Ganesa Gayatri
OM EKADANTAYA VIDMAHE, VAKRATUNDAYA DHIMAHI, TANNO DANTIHA PRACODAYAT
Semoga kita mewujudkan Sri Ganesa; tuntunlah hamba bermeditasi pada Dewa berkepala Gajah, yang melepaskan segala rintangan; Semoga Dewa yang bergading satu menerangi hamba.
2
Durga (di Pura Dalem)
Durga Gayatri
OM KATYANYAI CA VIDMAHE, KANYAKUMARYAI CA DHIMAHI, TANNO DURGA PRAODAYAT
Semoga hamba mewujudkan Katyanyai yaitu sakti (Siwa); tuntunlah hamba bermeditasi pada kanyakumari, dewi kegadisan dan semoga Durga mencerahi kami.
3
Brahma (di Pura Desa)
Brahma Gayatri
OM PARAMESVARAYA VIDMAHE, PARATATTVAYA DHIMAHI, TANNO BRAHMA PRACODAYAT
Semoga hamba mewujudkan Brahma tertinggi, bimbinglah hamba bermeditasi pada prinsip kebathinan dan semoga Brahma mencerahi hamba.
4
Wisnu (di pura Puseh/ Segara)
Narayana Gayatri
OM NARAYANA VIDMAHE, VASUDEVAYA DHIMAHI, TANNO VISNUH PRACODAYAT
Semoga hamba mewujudkan Narayana pemimpin Surgawi, bimbinglah hamba bermeditasi pada roh yang bersemayan di semua mahluk, semoga Sri Visnu mencerahi kami.

Hakim Berhati Mulia

Kutipan
 SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARNA KELAPARAN, HAKIM MENANGIS SAAT
 MENJATUHKAN VONIS !!

 diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak
 tuntutan jaksa PU thdp seorg nenek yg dituduh mencuri singkong,
 nenek
 itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya
 lapar,.... namun manajer PT A**** K**** (
 B**** grup
 tetap pada tunt...utannya, agar menjd contoh bg warga lainnya.
 Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU,
 'maafkan saya', ktnya sambil memandang nenek itu,. 'saya tak dpt
 membuat
 pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jd anda hrs dihukum. saya
 mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tdk mampu bayar maka anda
hrs msk
 penjara 2,5 tahun, spt tuntutan jaksa PU'.
Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, smtr hakim Marzuki
 mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil &
 memasukkan
uang 1jt rupiah ke topi toganya serta berkata kpd hadirin.
 "
 Saya atas nama pengadilan, jg menjatuhkan denda kpd tiap org yg
 hadir
 diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap dikota ini, yg
 membiarkan seseorg kelaparan sampai hrs mencuri utk memberi mkn
 cucunya,
 sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini
lalu
berikan semua hasilnya kpd terdakwa
."
 Sampai palu diketuk dan hakim marzuki meninggaikan ruang sidang,
 nenek
itupun pergi dgn mengantongi uang 3,5jt rupiah, termsk uang 50rb yg
 dibayarkan oleh manajer PT A**** K**** yg tersipu malu krn telah
 menuntutnya.

Sungguh sayang kisahnya luput dari pers. Kisah ini sungguh menarik
 sekiranya ada teman yg bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini
bisa di
 share di media tuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain utk
 bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yg
 berhati
 mulia.

CAKRA


Mengenali jalur sinar ke-Tuhanan (Antahkarana)
Kita lahir ke dunia ini serta dapat hidup karena kita diberikan atman/roh oleh Siwa/Tuhan. Tuhan/Siwa yang selalu berhubungan dengan atman/roh akan menyinari tubuh kita melalui Antahkarana. Antahkarana adalah jalur sinar suci Siwa/Tuhan yang mengalir ke tubuh manusia.
Antahkarana dapat dibesarkan dengan jalan membuka inti cakra Sahasrara (cakra Mahkota) melalui upacara ritual yaitu : pawintenan dan dapat dibantu oleh seorang guru spiritual tertentu.
Antahkarana ini berupa sinar putih keunguan yang mengalir terus menerus ke inti cakra Sahasrara yang letaknya bersesuaian dengan ubun-ubun di atas kepala kita. Pada kebanyakan orang umum antahkarana ini hanya setebal rambut, namun khusus bagi masyarakat Hindu umum/awam di Bali Antahkarana ini sebesar tusuk gigi sampai sebesar lidi. Hal ini disebabkan oleh seringnya masyarakat bali mengadakan upacara yadnya.
Tetapi dalam pengamatan waskita, besar kecilnya sinar Antahkarana tergantung seberapa dekat hubungan orang tersebut terhadap Tuhan/Siwa itu. Kenapa orang yang melakukan upacara yadnya ataupun ritual khusus di Bali mampu untuk memperbesar jalur suci Antahkarana, karena ritual maupun upacara yadnya di Bali secara tidak disadari sama halnya kita melakukan meditasi dan yoga.
Yadnya adalah shrada bhakti yang tulus iklas. Jadi kalau setiap manusia sudah tulus hatinya dalam melakukan yadnya tersebut maka tenanglah jiwa bhatinnya. Dan dalam bermeditasi dan yoga kita harus memusatkan pikiran kita pada satu tujuan, agar pikiran kita mencapai ketenangan, bila mana pikiran sudah mencapai ketenangan maka jiwa bhatin secara otomatis akan ikut tenang. Jadi dengan itu untuk mengembangkan Antahkarana ini dapat dilakukan dengan menyeimbangkan antara meditasi/sembahyang dan berbakti secara sungguh-sungguh berdasarkan hati yang tulus ikhlas.